19
Sep

GARAM DUNIA

“Kamu adalah garam dunia.

Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?

Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”

(Mat. 5:13)

 

 

 

Selesai kuliah saya ditempatkan di sebuah jemaat di kota Jakarta. Saya tinggal seorang diri di pastori. Saya jarang sekali masak. Saya lebih sering membeli makanan jadi atau memesan masakan kepada orangtua saya. Kalaupun saya masak, tentu masakan yang sederhana, misalnya menggoreng telur mata sapi atau dadar. Oleh karena itu, garam di dapur saya utuh. Satu bungkus garam bisa bertahan selama satu tahun. Meskipun sudah setahun, garam tersebut tetap asin.

 

 

Namun, mengapa garam pada zaman Yesus dapat menjadi tawar? Garam pada masa itu diambil dari Laut Mati. Kadar garam Laut Mati sangat tinggi, sehingga muncul bukit-bukit garam yang disebut dengan Jebel Usdum. Untuk mendapatkan garam, pencari garam harus mengerok bagian luar bukit garam. Bagian ini kadang menjadi tawar karena terkena air hujan. Garam yang sudah tawar ini tentu tidak ada faedahnya lagi. Sobat Lansia, Yesus menginginkan agar kehidupan para pengikut-Nya menjadi seperti garam yang memberikan rasa asin di tengah dunia yang tawar. Kita dipanggil untuk memberikan rasa bagi sekitar kita dengan kasih, kedamaian, kejujuran, kerendahan hati, dan sebagainya.DCN

 

 

DOA:

Ya Bapa, biarlah perkataan dan perbuatanku

menjadi kesaksian yang hidup bagi sesamaku. Amin.

Multiple Ajax Calendar

September 2018
S M T W T F S
« Aug   Oct »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Pengganti ongkos cetak dan biaya pengiriman:

Rp. 70.000,-/tahun

Rp. 8.000,-/eksemplar


Pembayaran melalui:

Bank Mandiri - Jakarta, Kelapa Dua

A/C No. 165 0000 558743

a.n. Yayasan Komunikasi Bersama

Marketing


BCA Bidakara

A/C No. 450 558 9999

a.n. Yayasan Komunikasi Bersama


Persembahan Kasih melalui:

BCA Bidakara

A/C No. 450 305 2990

a.n. Yayasan Komunikasi Bersama