1
Oct

BERUSIA SEMBILAN RATUS TAHUN?

Jadi Metusalah mencapai umur

sembilan ratus enam puluh sembilan tahun, lalu ia mati.

(Kej. 5:27)

 

 

 

Pak Gatot dan istri memiliki kegemaran yang sama yaitu membaca obituari. Komentar mereka bergantian, “Bu, yang ini masih muda. Anak-anaknya masih kecil. Kasihan!”, atau “Pak, kalau ini sudah 85 tahun. Aneh, mengapa fotonya kok masih muda, mungkin sengaja ya?” Jawab Pak Gatot, “Ya, kita hampir lewatkan obituari Pak Abun, sebab foto yang dipasang ketika ia masih muda. Bu, jika aku meninggal, aku juga minta pasang foto yang masih ganteng ya?” Sambil ber­canda istrinya menjawab, “Pak, nanti teman-temanmu gak mengenali fotomu dan jadi tidak datang melayat, lho!”

 

 

Sebenarnya yang terpenting bukan usia berapa kita meninggal, tetapi apakah kita mati dalam Tuhan? Memang manusia memiliki kecenderungan untuk menekankan yang lahiriah, seperti foto, naskah obituari yang bagus, juga lo­kasi kuburan. Apakah umur panjang seperti Metusalah tidak penting? Penting, tapi ada yang lebih penting, kita harus bertanya kepada diri sendiri, “Apakah aku percaya sepenuh hati kepada Tuhan Yesus? Apakah aku siap dipanggil Tuhan?” Entah kita diberi umur panjang atau tidak, biarlah yang menjadi kerinduan kita adalah kita mati dalam Tuhan.JNA

 

 

DOA:

Tuhan, kami ingin sekali meninggalkan dunia ini

dengan tetap berpegang kepada Tuhan Yesus,

karena kepada-Nya kami senantiasa berserah.

Biarlah kiranya kami mengakhiri hidup ini dengan damai sejahtera-Mu. Amin.

Multiple Ajax Calendar

October 2018
S M T W T F S
« Sep   Nov »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Pengganti ongkos cetak dan biaya pengiriman:

Rp. 70.000,-/tahun

Rp. 8.000,-/eksemplar


Pembayaran melalui:

Bank Mandiri - Jakarta, Kelapa Dua

A/C No. 165 0000 558743

a.n. Yayasan Komunikasi Bersama

Marketing


BCA Bidakara

A/C No. 450 558 9999

a.n. Yayasan Komunikasi Bersama


Persembahan Kasih melalui:

BCA Bidakara

A/C No. 450 305 2990

a.n. Yayasan Komunikasi Bersama