4
Oct

TIDAK SENDIRIAN

Ia berkata kepada anak-anaknya: “Di manakah ia?

Mengapakah kamu tinggalkan orang itu? Panggilah dia makan.”

(Kel. 2:20)

 

 

 

Sepasang suami istri lanjut usia bernostalgia. Si suami bertanya, “Bu, masih ingat ketika kita pertama kali bertemu?” Sang istri menjawab, “Wah, Bang, mana aku bisa lupa! Kamu men­coba bikin betul sepedaku, tapi tak bisa-bisa! Akhirnya, kamu memanggulnya ke bengkel.” Jawab sang suami, “Ya, waktu itu hanya satu pikiranku: ingin sekali berkenalan. Tak kukira aku harus menderita dulu dan menanggung malu.” “Tapi, Bang, justru karena itu aku jadi ingin mengenalmu lebih baik sebab meski jarak ke bengkel cukup jauh, kamu tetap saja melaku­kan dengan sukacita. Pertemuan kita pertama menentukan hidup kita bersama, bukan?”

 

 

Nampaknya, perjumpaan pertama kali Musa dengan Zipo­ra juga sudah mengisyaratkan karakter masing-masing. Musa selalu ringan tangan, suka bertualang, sedang Zipora betah di rumah, selalu ingin pulang. Ia mau mengantar Musa pergi tetapi tak pernah ikut mengembara. Akhirnya Musa menjalani sebagian besar sisa hidupnya sendirian. Itulah nasib sebagian besar kita. Namun, Musa selalu berjalan dengan Allah. Apakah kita tetap berjalan dengan Tuhan? Seharusnya demikian, sebab Tuhan selalu bersama kita, walau kita merasa sendirian.JNA

 

 

DOA:

Tuhan, terima kasih atas kesetiaan-Mu

sehingga kami selalu merasa tak pernah harus berjuang dan hidup sendiri.

Roh Kudus tetap tinggal dalam diri kami untuk menghibur dan menguatkan. Amin.

Multiple Ajax Calendar

October 2018
S M T W T F S
« Sep    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Pengganti ongkos cetak dan biaya pengiriman:

Rp. 70.000,-/tahun

Rp. 8.000,-/eksemplar


Pembayaran melalui:

Bank Mandiri - Jakarta, Kelapa Dua

A/C No. 165 0000 558743

a.n. Yayasan Komunikasi Bersama

Marketing


BCA Bidakara

A/C No. 450 558 9999

a.n. Yayasan Komunikasi Bersama


Persembahan Kasih melalui:

BCA Bidakara

A/C No. 450 305 2990

a.n. Yayasan Komunikasi Bersama