30
Nov

SABAT DARI SIAPA?

Lukas 6:1-5

“Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”

(Lukas 6:5)

 

 

 

Melanggar hukum dan tradisi agama sering kali dianggap dosa besar. Pelanggaran terhadap hukum dan tradisi agama sering kali disejajarkan dengan melanggar hukum Tuhan. Maka konsekuensi logisnya ialah melanggar hukum dan tradisi agama berakibat cepat atau lambat akan mendapat hukuman dari Tuhan. Pola pikir inilah yang dipakai kebanyakan orang. Celakanya, pola pikir seperti ini dipakai secara membabi buta. Aturan kecil yang harusnya tidak ada hubungannya dengan Tuhan, malah disangkutpautkan. Misalnya, ada orang-orang menghakimi sesamanya yang memakai sandal jepit ke gereja sebagai orang yang merendahkan Allah; tidak sopan kepada Allah. Padahal, hal itu barangkali tidak berhubungan. Ibadah tidak bisa selalu dikaitkan dengan hal-hal lahirian, seperti alas kaki. Bukankah ibadah itu soal hati yang terarah kepada Tuhan?

 

 

Yesus dituduh tidak menguduskan hari Sabat, karena para murid-Nya memetik buah gandum. Persoalannya menjadi berbeda, karena Sabat dibuat oleh Allah agar manusia merenungkan kasih-Nya, sehingga mereka dapat belajar menerapkan kasih kepada Allah dan sesama. Namun, orang-orang Farisi mulai memakai hari Sabat sebagai alat untuk mencari kesalahan orang lain. Yesus dengan tegas kemudian mengatakan bahwa dahulu saat Daud lapar di hari Sabat, dia mengambil roti dari Bait Allah. Daud juga membagi-bagikan roti itu kepada pengikut-pengikutnya, agar mereka dapat bertahan hidup. Artinya, Sabat justru menegaskan tentang kasih.

 

 

Teens, Allah memiliki banyak cara untuk mengasihi dan menumbuhkan kasih bagi manusia. Sabat adalah cara Allah agar manusia belajar mengasihi, baik mengasihi Allah dan mengasihi manusia. Karena itu, jangan cepat menghakimi dan menuduh. Lebih baik, kita peka terhadap Tuhan yang penuh kasih. Selamat belajar tentang kasih Allah dalam banyak cara dan rupa!

Multiple Ajax Calendar

November 2019
S M T W T F S
« Oct   Dec »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Pengganti ongkos cetak dan biaya pengiriman:

Rp. 70.000,-/tahun

Rp. 8.000,-/eksemplar


Pembayaran melalui:

Bank Mandiri - Jakarta, Kelapa Dua

A/C No. 165 0000 558743

a.n. Yayasan Komunikasi Bersama

Marketing


BCA Bidakara

A/C No. 450 558 9999

a.n. Yayasan Komunikasi Bersama


Persembahan Kasih melalui:

BCA Bidakara

A/C No. 450 305 2990

a.n. Yayasan Komunikasi Bersama