Wednesday, 07 May 2008 12:30 

News

Pemanasan Global, Sebuah Ekologi Kematian

04 August 2008

Dalam Kitab Kejadian 1:29 kita membaca, Berfirmanlah Allah: Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. Amanat dan anugerah Allah sudah berlangsung berabad-abad dalam peradaban selama kehidupan umat manusia. Mustahillah manusia dapat hidup tanpa ada makanan dari tumbuhan yang berbiji dan pohon-pohonan yang buahnya berbiji sebagaimana yang diamanatkan Allah. Hal mana menjadi bagian dari hakikat manusia.

Dalam Dokumen Latarbelakang Sidang Raya Dewan Gereja-gereja seDunia IX di Porto Alegre – Brazilia tahun 2006 berjudul, “Globalisasi Alternatif, Mengutamakan Rakyat dan Bumi” kita mendapatkan kilasan dari rangkaian konsultasi studi yang mengejutkan sebagai berikut:
Akibat pemanasan global yang terus meningkat terdapat spesies-spesies yang punah dari bumi. Sejak tahun 1850-1950, 1 (satu) spesies punah setiap tahun. Itu berarti selama seabad ada 100 spesies punah. Sejak tahun 1989, 1 (satu) spesies punah setiap hari. Itu berarti selama setahun saja ada 365 spesies punah. Sejak tahun 2000, 1 (satu) spesies punah setiap jam. Itu berarti selama setahun kini ada 24 jam X 365 hari = 8.760 spesies punah. Sampai tahun 2008 ini berarti ada 8 X 8.760 = 70.080 spesies punah. Menurut studi di atas, dalam kurun waktu 50 tahun terakhir, 25% spesies hewan dan tanaman punah akibat pemanasan global. Dengan tingkat percepatan pemanasan global seperti sekarang ini, maka dalam 50 tahun ke depan boleh jadi lebih dari 50% spesies yang tersisa akan punah juga.

Di kantor Sinwil, kami mendiskusikan skema tersebut dan berkesimpulan, spesies terbanyak yang punah akibat pemanasan global adalah tanaman atau tumbuhan. Pemanasan global sedang menghancurkan alam ciptaan secara mengerikan bahkan melampaui hukum keseimbangan ekologis. Kekuatan penghancuran ini berada di luar kuasa bumi untuk terus menghidupi makhluk hidup. Bagaimanapun juga, pikir kami, hewan-hewan yang berkemampuan bergerak dan berpindah, akan dapat bermigrasi dari satu tempat ke tempat lain jika cuaca lokal memburuk. Hal itu sering kita saksikan atas migrasi burung, ikan dan mamalia. Namun dalam pemanasan global (bukan lokal) tindakan mereka akan berhenti, sebab suatu hari nanti tak ada tempat lagi bagi mereka untuk bermigrasi. Pada pihak lain, tumbuhan adalah ciptaan yang tidak mampu bergerak atau berpindah dari tempatnya sebab ia berakar di situ. Itu sebab kami berpendapat korban pemanasan global terbanyak adalah spesies tanaman atau tumbuhan.

Ekologi Kematian
Lebih daripada membicarakan penggundulan hutan dan pengrusakan lahan, kita sedang membicarakan kepunahan spesies-spesies. Punah berarti bukan sekadar tidak akan tumbuh lagi, melainkan tidak akan eksis lagi dan tidak pernah ada lagi. Manakala kecepatan punah spesies-spesies berlangsung dalam proses yang demikian cepat dan akan makin cepat, berarti suatu ketika nanti kita akan mengalami krisis bahkan kehilangan bahan pangan sayur-mayur dan buah-buahan. Ibarat kata, kita tidak lagi mempunyai kangkung, bayam, cabai atau bahkan padi sebagai makanan kita. Itu berarti pemanasan global mengakibatkan hadirnya suatu ekologi kematian.

Pemanasan global disebabkan oleh banyak hal. Sebab-sebab itu seringkali di luar kuasa kita, sebagai individu, keluarga maupun komunitas, untuk mencegahnya. Salah satu sebab ialah sampah yang bukan saja berjumlah banyak tetapi juga yang bersifat tidak dapat terurai dengan tanah. Oleh karena itu, ada tindakan yang realistis dapat kita lakukan. Jadi pesan Memorandum Pastoral ini, ialah agar kita seluruh dan setiap anggota dan simpatisan GKI di Sinwil Jabar berkomitmen dan bertindak atas hal-hal berikut:

  1. Meminimalisasikan (kalau bukan meniadakan) penggunaan segala macam bentuk peralatan disposable (sekali pakai buang) yang terbuat dari plastik dan styrofoam, misalnya wadah makanan, kudapan, belanjaan dan lain-lain.
  2. Seperti banyak diketahui plastik dan styrofoam sebagai bahan anorganik, meskipun murah, bersifat sangat merusak bumi. Sebagai sampah plastik dan styrofoam memerlukan 300-500 tahun untuk dapat terurai dengan tanah, dibandingkan bahan kertas dan daun (organik) yang segera terurai dalam tanah.
  3. Dengan nyaris 100.000 anggota dan simpatisan GKI Sinwil Jabar yang berkomitmen, maka jumlah penghapusan atau pengurangan penggunaan plastik dan styrofoam akan menjadi kontribusi yang cukup berarti bagi bumi yang kita cintai ini.

Pesan ini tentu saja tidak terbatas di situ. Manakala kita menyintai bumi kita dan kehidupan yang diam di dalamnya termasuk diri kita, maka semua orang dapat memikirkan dan melaksanakan tindakan-tindakan lain yang selaras. Kita meyakini bahwa secara spiritual kita berkewajiban memberi kontribusi terhadap pencegahan ekologi kematian. Tanggal 5 Juni 2008 di seluruh dunia diperingati Hari Bumi. Bentuk peringatan kita bukanlah perayaan, melainkan kontribusi yang berkomitmen serta konkret terhadap bumi kita. Komitmen ini walaupun hasilnya mungkin tidak kelihatan kasatmata, tetapi secara langsung merupakan tanda cinta kita kepada sesama dan dunia kita. Komitmen ini mewakili relasi sehat yang Tuhan wajibkan kepada kita, yakni menjadi persembahan komitmen yang luhur bagi Tuhan, sesama dan bumi kita. BPMSW mengartikan juga komitmen ini sebagai respon terhadap kondisi kontekstual, yang berdampak pembaruan hidup, sebagaimana tercantum dalam Tema Pelayanan GKI Sinwil Jabar.

Teriring doa dari BPMSW bagi Anda semua dan bumi yang Tuhan percayakan kepada kita. Semoga yang kita lakukan dapat menjadi teladan bagi lebih banyak orang dalam masyarakat Kristiani dan masyarakat umum.

“Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.” (Mz. 24:1) “Engkau telah menggoncangkan bumi dan membelahnya; perbaikilah retak-retaknya, sebab bumi telah goyang.” (Maz. 60:2)


Kembali ke News