Wednesday, 07 May 2008 12:30 

News

Seminar Pendidikan

21 November 2008

 

Anak… Berkat atau Investasi?

 

Bagaimana sikap kita kalau anak kurang berhasil! Sebenarnya apa tolak ukur keberhasilan seorang anak itu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut terlontar dari mulut Ibu Lanny Santoso selaku moderator seminar pendidikan yang diadakan di GKI Surya Utama, pada tanggal 15 November 2008 dengan mengambil tema “Anak.. Berkat atau Investasi?”

 

Seminar yang dihadiri kurang lebih 40 orang ini menjadi menarik karena Ibu Charlotte K. Priatna, S.Pd. membawakan dengan contoh-contoh keseharian yang mudah dimengerti. Ibu Charlotte adalah seorang yang sudah berkecimpung selama dua puluh tahun di dunia pendidikan dan selama sepuluh tahun terakhir terlibat dalam kelas parenting, seminar dan ceramah pendidikan di sekolah maupun gereja.

 

Dalam ceramahnya, ibu Charlotte mengatakan sukses seseorang sering dilihat dari harta yang dimiliki. Sukses menurut orang Jawa, kalau orang tersebut sudah memiliki lima O yakni Garwo (Istri), Pusoko (kedudukan/Gelar kebangsawanan/kesarjanaan), wismo (rumah), turonggo (kendaraan), kukilo (Kesukaan/hobi). Sukses menurut orang Sigapura jika orang tersebut sudah memiliki lima K : karir, kas, kendaraan, kondominium, kartu kredit.

 

Karena pandangan dan pemahaman yang seperti itu, maka orang tua menuntut anak-anaknya untuk berprestasi. Anak dianggap sebagai unit-unit ekonomi masa depan, aset masa depan yang menjamin sukses. Sukses anak adalah sukses orangtua. Untuk mencapai nya orangtua mengeksploitisir habis-habisan anak dengan dijejali berbagai les untuk mencapai prestasi. Anak tidak memiliki hak otoritas atas dirinya sendiri, semuanya tergantung investor yaitu orang tuanya.

 

Hal ini menyebabkan “value” yang terbentuk pada anak. Anak belajar menjadi materialistis, hedonis dan konsumeristis. Nilai-nilai anak bukan pada dirinya sendiri tapi pada hal-hal yang bersifat prestise. Menilai segala sesuatu dari sudut menguntungkan atau tidak sehingga anak sulit menghargai sebuah pengorbanan dan daya juang.

 

Anak adalah anugerah Tuhan. Tuhan adalah sebagai pemilik/investor yang memiliki hak otoritas terhadap anak-anak. Tuhan menitipkan dan mempercayakan anak-anak kepada orangtua untuk dididik dan dibimbing menjadi seperti yang Tuhan inginkan, bukan seperti orangtua inginkan. Orangtua dipercayakan oleh Tuhan hanya sebagai pengelola.

 

Jika menganggap anak adalah anugerah dari Tuhan, maka hasil akhirnya adalah membawa anak-anak menjadi takut akan Tuhan. Spiritualitas menjadi dasar utama pendidikan dalam menumbuhkan karakter anak-anak. Bagaimana kita akan berhasil mendidik anak-anak jika tidak ada relasi dan kedekatan antara orangtua dengan Tuhannya. Demikian Ibu Charlotte mengakhiri ceramahnya.


Kembali ke News